Senin, 22 November 2010

Sering Makan Korban, Jalan ke Blok Cepu Diportal

Banyak yang bertanya, kenapa warga RT 1/RW 1 Desa Gayam, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Senin (22/11/2010) memasang portal ?

Jawabannya ternyata cukup singkat oleh warga, yakni di jalan menuju Gas Oil Separation Plant (GOSP) blok cepu yang dikelola PT Exterran Indonesia tersebut sering memakan korban.

Karena, setiap malam kondisi jalan desa yang tepat disamping pengolahan sementara minyak dari Lapangan Banyuurip tersebut cukup gelap.

Sehingga, tidak jarang warga sekitar maupun pendatang yang jatuh atau terlibat kecelakaan. Oleh karena itu, warga memasang portal pagi tadi supaya bisa mengumpulkan dana.

"Memang benar, setelah dana terkumpul akan dipakai memasang lampu," kata Kepala Desa Gayam, Pujiono, kepada beritajatim.com.

Dijelaskan, sebenarnya portal tidak perlu dipasang, jika PT Exterran Indonesia kooperatif dan menyisikan secuil penghasilannya untuk warga.

"Ini semuanya bukan semata-mata untuk warga sekitar, tetapi juga masyarakat secara luas," sambungnya.

Selain itu, para pekerja Exterran juga akan lebih enak jika jalannya benderang. Karena, setiap malam kondisinya gelap gulita dan mengkhawatirkan.

"Masak kalah dengan PT kecil yang sering memberikan kompensasi. Sedangkan, Exterran cukup minim," lanjutnya.

Jika meminta kepada operator Mobil Cepu Limited (MCL), pihaknya takut kalau nantinya akan dimasukkan dalam cost recovery. Jika penggunaan dananya besar tidak apa-apa, tetapi pemasangan lampu ini hanya memerlukan dana tiak besar.

"Exterran harus bisa memahami itu semuanya. Tidak penting diberikan dana atau material lampu, yang penting bisa terpasang dan menyala tiap malamnya," tegas Pujiono.

Sejauh ini, belum ada komentar resmi dari PT Exterran mengenai tuntutan warga. Tetapi warga bisa menjamin, jika lampu terpasang, portal akan segera diambil. Namun jika tidak, maka portal tetap akan dipasang sampai dana benar-benar terkumpul untuk pemasangan lampu.

By Admin with No comments

Minggu, 14 November 2010

Dihantam Puting Beliung, 1 Rumah Warga Roboh

Bojonegoro - Angin dan hujan cukup lebat yang belakangan ini terus mengguyur Kabupaten Bojonegoro, memakan korban. Satu rumah warga di Desa Ngantru, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro roboh, dan beberapa lainnya rusak karena diterpa angin cukup kencang.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Minggu (14/11/2010) menyebutkan, jika rumah yang roboh adalah milik Lasmi, janda yang selama ini menempati rumah tersebut sendirian.

Akibat kejadian tersebut, diperkirakan korban menderita kerugian cukup banyak. Karena, bangunan rumah yang berada di RT 10 RW 1 tersebut rata dengan tanah. Warga sekitar yang kasihan dengan korban langsung berusaha untuk membersihkan dan menumpuk kayu yang masih bisa dipakai untuk pembangunan kembali.

Kasubbag Humas Polres Bojonegoro, AKP MT Ariadi menjelaskan, jika pihaknya juga mendengar kejadian tersebut dan langsung turun ke lapangan. Bahkan, beberapa petugas juga ikut melakukan pembersihan bersama dengan warga lainnya. "Direncanakan, rumah korban akan dibangun secara gotong royong," lanjutnya.

Ditanya mengenai kerugian akibat angin puting beliung tersebut? Ia belum bisa menaksir secara rinci. Sejauh ini, masih dilakukan penghitungan di lapangan

By Admin with No comments

Senin, 25 Oktober 2010

Pembuang Bayi Tewas di Bojonegoro Masih Misterius

Bojonegoro - Walaupun sudah ditemukan sejak kemarin, tetapi pembuang bayi yang diperkirakan sudah berumur lebih dari 8 bulan tersebut masih misterius.

Sebab, petugas yang melakukan penyelidikan di sekitar tempat kejadian perkara (TKP), tepatnya di kali Gandong, Desa Bonorejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, belum mendapatkan tanda-tanda.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Senin (25/10/2010) menyebutkan, jika beberapa petugas dari Polsek Gayang menyisir wilayah di sekitar blok cepu tersebut.

Beberapa desa sudah disisir, tetapi belum ada tanda-tanda kepastian, mengenai warga yang hamil dan ditengarai sebagai pembuang bayi tidak berdosa tersebut. "Khususnya di Desa Bonorejo, sudah kami cek semuanya dan tidak ada yang mengerti," kata Kapolsek Gayang, Iptu Subarata.

Diterangkan, jika bayi berjenis laki-laki tersebut masih disemayamkan di kamar jenazah RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. "Saat ini, telah memasuki masa otopsi dan petugas masih berusaha semaksimal mungkin," lanjutnya.

Subarata menjelaskan, dugaan sementara memang bayi itu hasil hubungan gelap yang dibuang, karena kelahirannya tidak dikehendaki. Sebab, pada saat ditemukan oleh empat bocah warga Desa Bonorejo yang sedang mandi di kali, bayi tanpa sehelai pakaian itu masih tertempel ari-ari. "Sehingga, diperkirakan ia sudah dibuang sejak tiga hari kemarin," sambungnya.

Belum diketahuinya siapa pembuang bayi itu, petugas masih berusaha menyelidikinya di lapangan. Terbukti, para wanita yang hamil di sekitar kali Gandong, khususnya di wilayah bagian atas desa telah dichek. "Semoga saja bisa segera terungkap siapa orang tua bayi laki-laki malang tersebut," terangnya.

Tetapi, dugaan sementara ini jika bayi tersebut berasal dari luar kecamatan. Sebab, kali Gandong juga melintasi di beberapa kecamatan lainnya, semisal Kecamatan Ngambon, Purwosari dan Kecamatan Kalitidu.

Seperti diketahui, jika mayat bayi itu ditemukan oleh Arga Febian Putra, Andik A, Mahmuji dan Jono. Keempat anak yang usianya berkisar 13 tahunan itu sedang mandi bersama-sama di kali yang melintas di Desa Bonorejo itu.
Awalnya Arga melihat benda seperti boneka yang melintas di dekat mereka. Tetapi, semakin dekat, bau busuk menusuk hidung dan membuat mereka menjauh dari sungai.

Saat benda tersebut mendekat, ternyata sesosok mayat bayi yang kondisinya mengenaskan membuat anak-anak itu ketakutan. Sehingga melapor kepada warga sekitar, yang seterusnya sampai di Kepala Desa (Kades) Siti Rokayah. Tidak lama setelah itu, pihak desa memberitahukan penemuan itu ke Mapolsek Gayam untuk segera ditindaklanjuti.

By Admin with No comments

Minggu, 03 Oktober 2010

Elpiji Meledak, Hajatan pun Bubar

Bojonegoro - Gaga-gara tabung gas elpiji 3 kilogram meledak, Lasi (50) warga Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, gagal menggelar hajatan.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Minggu (3/10/2010) menyebutkan, korban rencananya akan menggelar hajatan 100 hari meninggalnya sang suami.

Namun apes, saat memakai kompor yang tersambung dengan tabung elpiji 3 kilogram tiba-tiba meledak. Untungnya, hanya perabotan dapur dan juga bekal yang akan dipakai hajatan yang hangus terbakar.

Menurut sejumlah saksi mata di tempat kejadian perkara (TKP), akibat kejadian tersebut warga yang berada di dapur semburat untuk mengamankan dirinya.

Menantu Lasi yang bernama Rasmin menuturkan, dirinya saat itu sedang mengganti tabung gas elpiji yang sudah habis isinya dengan yang baru. Tetapi, karet yang berada di ujung paling atas tabung terdapat masalah. Sebab, saat dipasang dengan selang regulator, terdengar suara
mendesis.

"Karena takut, akhirnya kami mencari penggantinya yang lebih baik," terangnya.

Ia bergegas pergi, tetapi saat itulah terdengar suara ledakan yang cukup keras dan mengagetkan banyak orang di sekitar rumahnya. "Kemungkinan elpiji meledak karena di dapur sedang panas," lanjutnya.

Setelah ledakan tersebut, api selanjutnya menyambar beberapa bagian dapur dan menghanguskan seluruh isinya. "Untung saja, warga yang bergotong royong memadamkan dengan alat seadanya berhasil memadamkan api dengan cepat," sambungnya.

Sehingga, hanya bagian dapur dan perlengkapan hajatan yang habus terbakar. Dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Kasubbag Humas Polres Bojonegoro, AKP MT Ariadi menerangkan, pihaknya setelah mendapatkan laporan dari warga langsung ke TKP. "Dugaan sementara memang adanya karet dibagian atas elpiji yang rusak, tetapi semuanya masih didalami oleh petugas," jelasnya.

Beberapa saksi juga telah dimintai keterangan, khususnya saksi korban dan juga beberapa saksi lain yang mengetahui kejadian kebakaran itu.

By Admin with 1 comment

Jumat, 17 September 2010

Geger, Pria Tewas Tergantung di Tengah Hutan Bojonegoro

(beritajatim.com) - Dalam dua hari ini 2 warga di Bojonegoro ditemukan tewas tergantung. Kali ini, warga di sekitar RPH Wadang dibuat geger oleh penemuan mayat. Korban yang ditemukan biasa dipanggil Ji (40) warga Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Ia ditemukan tergantung di pondok persilan di tengah hutan jati RPH Wadang petak 2-C BKPH Tengger.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Jumat (17/9/2010) menyebutkan, jika diperkirakan mayat sudah tergantung selama 2 hari lebih.

Warga yang menemukan pertama kali bernama Iwan, asal Desa Wadang, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. Saat itu, ia sedang berada di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) dan mencium bau busuk dari dalam tempat persinggahan tersebut.

Mencium bau tersebut, ia langsung melihat dari celah-celah dinding rumah di tengah hujan jati yang sangat sepi itu. Ia kaget bukan kepalang, karena dirinya melihat seorang laki-laki berusia hampir setengah baya tergantung dan kondisinya sudah meninggal dunia.

Takut terjadi apa-apa, ia langsung memanggil beberapa warga lainnya dan melapor ke pihak desa. Tidak hanya itu saja, warga yang tidak dikenal sebagai orang daerah setempat, sempat kebingungan mendeteksi siapa orang itu.

Namun, karena kondisinya yang mengenaskan warga melapor ke aparat kepolisian Ngasem. Tidak berapa lama, beberapa petugas langsung ke TKP dan melihat kondisi mayat. "Diperkirakan memang sudah lebih dari dua hari," jelas Kapolsek Ngasem, AKP Aruman.

Dikatakan, jika pihaknya sempat mencari tahu siapa orang yang bunuh diri itu. Tetapi, pihaknya akhirnya mendapatkan kabar dari beberapa warga yang mengetahui jika lelaki itu stres. "Nama panggilannya Pak Ji, tetapi nama lengkapnya masih dicari," sambungnya.

Walaupun begitu, pihaknya masih menyelidiki keberadaan dari mayat yang ditemukan. Belum diketahui persis apa penyebabnya.

By Admin with 2 comments

Senin, 06 September 2010

Hujan, Petani Tembakau Bojonegoro Menangis

Bojonegoro - Hujan yang mengguyur Kabupaten Bojonegoro sejak semalam membuat para petani tembakau hanya bisa menggelengkan kepala.

Sebab, cobaan demi cobaan pada musim tanam kali ini benar-benar diluar dugaan para petani. Ratusan hektare tanaman tembakau yang dipetik daunnya dan sudah dimasak tidak bisa dikeringkan.

Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Senin (6/9/2010) menyebutkan, jika di beberapa sentra pengrajin tembakau, warga banyak yang sudah terlanjur memetik daun tembakau kedua.

Diantaranya di wilayah Kecamatan Kedungadem, Baureno, Sumberrejo, Sugihwaras, Balen, Kanor, Temayang, Dander dan Kecamatan Ngasem.
Dengan seperti itu, maka sinar matahari yang dibutuhkan, bukannya hujan yang tidak reda-reda dan kembali berulang-ulang.

"Kalau seperti ini, bagaimana bisa kering," kata Wasgito, salah seorang petani tembakau di Kecamatan Sumberrejo.

Menurutnya, ia bersama para petani lainnya sangat dilematis. Sebab, daun tembakau sudah menguning dan siap dimasak atau dirajang semalam.

"Jika tidak dimasak, maka kemungkinan akan rusak membusuk. Tetapi, jika dimasak maka kemungkinan besar tidak akan kering," jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Nuril (34) asal Kecamatan Sugihwaras. Menurutnya, semalam ia memaksakan diri memasak daun tembakau yang sudah siap.

Dirinya berkeyakinan jika paginya sinar matahari akan cerah, sehingga daun tembakau yang sudah diproses ditumpuk terlebih dahulu menunggu pagi.

"Tetapi, prediksi saya meleset tajam. Sebab, sejak pagi sampai siang, ternyata matahari enggan bersinar," tambahnya.

Yang bertambah parah, hujan terus-terusan sangat menyengsarakan masyarakat petani tembakau. Sebab, yang diharapkan adalah panas, tetapi tidak ada sinar sama sekali.

By Admin with No comments

Jumat, 25 Juni 2010

Dihantam Angin, Belasan Hektare Tanaman Padi Rusak

Bojonegoro - Walaupun tidak disertai hutan, angin cukup kencang yang menghantam wilayah Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, cukup membuat resah warga.

Sebab, belasan hektare tanaman padi yang sudah siap panen di beberapa desa roboh. Akibatnya, banyak petani yang harus melakukan penen secepatnya.
Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Jumat (25/6/2010) menyebutkan, jika angin kerap menerpa walaupun tidak disertai dengan hujan.

Akibatnya, beberapa hektare tanaman padi yang sudah siap panen tumbang dan petani kesulitan memanennya. Seperti di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.

Beberapa petani tampak mulai mengambil padi yang roboh untuk dibawa pulang. Mereka tampak kesulitan, karena selain dibawah tanaman padi masih ada air, proses memanen tingkat kesulitannya lebih tinggi. "Bagaimana tidak sulit mas, kalau padi sudah roboh seperti ini," kata Mulyadi (36) warga setempat.

Jika tidak segera dipanen, maka bisa jadi hasilnya akan semakin rusak dibandingkan dengan sebelumnya. Makanya, para petani mempercepat proses panennya. "Saat ini sebenarnya juga tidak masalah jika dipanen, sebab kondisi buahnya juga telah lumayan tua," terangnya.

Hal senada disampaikan oleh Abdul Rahman (42). Menurutnya, hampir setiap memasuki musim kemarau tiba, angin berhembus cukup kencang, karena memang termasuk wilayahnya dataran agak tinggi. "Walaupun tidak pegunungan, tetapi wilayah kami lebih dekat dengan hutan," tambahnya.

Dengan kondisi seperti itu, maka angin bertiup cukup kencang setelah musim penghujan selesai. Sebelumnya hampir setiap sore angin berhembus kencang dan menerpa apa saja yang dilewatinya. "Sebenarnya kami juga tidak mengharapkan padi yang tinggal memetik hasilnya ini hancur," lanjutnya.

Jika tidak dipanen sekarang, warga menilai kerusakan akan semakin tinggi. Sebab, sejak tanam beberapa bulan lalu kerusakan sudah tampak pada batang tanaman padi.

Mulai dari serangan hama tikus, wereng, dan beberapa penyakit lainnya. Sehingga, petani sebenarnya sudah bersukur kalau padi masih bisa dipanen, walaupun hasilnya kurang baik. "Kalau di desa ini kemungkinan ada belasan hektare yang roboh akibat diterpa angin kencang. Tanaman lain sudah terlebih dahulu dipanen oleh pemiliknya," tegas Abdul Rahman.

By Admin with No comments